Selasa, 21 April 2009

Vitamin C Dosis Tinggi, Amankah?

Linus Pauling, Ph.D, ahli biokimia penerima hadiah Nobel hingga dua kali, meninggal dunia dalam usia 93 tahun akibat kanker. Sebelum kematiannya ia mengungkapkan bahwa bila dirinya tak rajin mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi selama setidaknya 20 tahun terakhir, mungkin ia akan meninggal pada usia 60-an atau 70-an.
Menurut majalah Natural Health yang mewawancarainya setahun sebelum meninggalnya, pada usia setua itu kulit Pauling masih segar, liat dan sinar matanya cemerlang, juga masih sanggup bekerja keras sepanjang hari.
Pauling dalam anjurannya menyarankan untuk mengkonsumsi 3200-12.000 mg vitamin C per hari, ia sendiri sering mengkonsumsi hingga 18.000 mg per hari!!, Padahal menurut RDA hanya perlu mengkonsumsi vitamin C 60 mg saja per hari untuk menghindari defisiensi (kekurangan) vitamin C. Jika kita mengkonsumsi vitamin C kurang dari 60 mg per hari, kita akan kehilangan kekebalan tubuh.
Manfaat suplementasi vitamin C dosis tinggi juga dipraktikkan Robert F.Cathcart, MD dari San Mateo California terhadap 13.000-an pasiennya yang menderita penyakit infeksi serius semacam hepatitis, kanker dan AIDS. Setiap hari ia menyuntikkan vitamin C hinnga 200.000 mg ke tubuh para pasien, untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka. Hasilnya, pasien hepatitis akut yang disuntik 40.000-100.000 mg vitamin C per hari kondisinya membaik setelah 2-4 hari dan sembuh total setelah 6 hari.
Sistem kekebalan tubuh akan maksimal jika tersedia stok vitamin C sebanyak 1500 mg didalam darah. Pada umumnya tubuh mengambil 3-4% dari stok tersebut per hari (-/+ 45 - 60 mg) untuk memenuhi kebutuhan harian. Agar stok tak berkurang, kita harus menggantinya dengan mengkonsumsi vitamin C dalam jumlah yang sama, minimal 60 mg per hari.
Jika kita gemar makan buah dan sayuran mentah seperti lalap atau salad, maka jumlah asupan vitamin C akan makin berlipat.
Masalahnya, jumlah penggunaan vitamin C oleh tubuh per hari sangat berfluktuasi, sebagai pengatur sistem pertahanan tubuh, vitamin C bertanggung jawab penuh pada setiap gangguan terhadap tubuh, baik gangguan psikis (stress, marah,sedih), fisik (luka, sakit, kelelahan), fisiologis (zat antigizi dalam makanan, gizi salah) maupun polusi lingkungan (udara kotor, asap rokok, bising), akibatnya stoknya mudah menipis.Untuk mengantisipasi kondisi demikian, para ilmuwan mempertimbangkan kembali jumlah kecukupan vitamin C yang dianggap ideal, yakni 250 mg per hari, bukan 60 mg lagi.
Menurut Sandra Goldman Ph.D selama ini kita dicekoki pengetahuan bahwa tubuh hanya mampu menyimpan vitamin C dalam jumlah terbatas,karena itu percuma saja minum suplemen vitamin C melebihi itu karena hanya akan terbuang melalui urin. Padahal sesungguhnya tubuh menyimpan vitamin C dalam jumlah fluktuatif, tergantung kebutuhan tubuh saat itu untuk menunjang sistem kekebalan tubuh, menangkal radikal bebas, mengatur metabolisme kolesterol dan gula, menyembuhkan luka, dsb.
Karena itu Goldman mendukung suplementasi hingga mencapai kejenuhan vitamin C serum yang yang ditetapkan dengan 'standar diare' yang dosisnya berbeda-beda pada setiap orang.
Jika ingin mengetest tingkat kejenuhan vitamin C serum anda, minumlah vitamin C 3 kali sehari masing-masing 1000-2000 mg, setiap 3 hari tingkatkan dosisnya 4 kali, lalu 5 kali, hingga anda diare. itulah dosis kejenuhan vitamin C anda, selanjutnya, minumlah dibawah jumlah itu. Diare tersebut bukanlah penyakit, tapi hanya reaksi tubuh terhadap tingginya konsentrasi vitamin C dalam darah. Ketika masuk ke usus halus, konsentrasi vitamin C yang tinggi tersebut akan memaksa cairan keluar sel, lalu masuk ke usus hingga menyebabkan diare.
Kemungkinan timbulnya batu ginjal akibat suplemen v itamin C dosis tinggi dapat ditiadakan dengan memilih vitamin C berupa senyawa garam askorbat yang lazim disebut vitamin C terbuffer (buffered vitamin C) atau askorbat mineral. Karena sudah berbentuk ikatan garam, vitamin C sulit berikatan dengan oksalat yang akan membentuk batu ginjal. Contohnya anda bisa memilih vitamin C berkalsium atau magnesium, atau yang lebih aman vitamin C-ester. Vitamin C-ester keasamannya telah dinetralkan sehingga aman bagi lambung, tidak membentuk gas karbondioksida (CO2) sehingga tidak menyebabkan sering kentut atau bersendawa bahkan kembung.
Sementara itu, penggunaan vitamin C dosis tinggi bukannya tidak beresiko, menurut Victor Hebert,M.D, guru besar kedokteran pada Mount Sinai School of Medicine, New York, memperingatkan, bahwa vitamin C dosis tinggi sesungguhnya juga berpotensi sebagai prooksidan alias radikal bebas bagi tubuh. Hal ini didukung oleh penelitian Joseph Lunec Ph.D dari University of Leichester, UK. Bersama teamnya Lunec menemukan bahwa suplementasi 500 mg vitamin C per hari, disamping meningkatkan kekebalan tubuh, mereka juga menemukan adanya efek kerusakan genetik pada responden, 6 minggu setelah mengkonsumsi suplemen. Tetapi pengamatan manfaat suplementasi mega dosis vitamin C telah dilakukan terhadap puluhan ribu orang, sedangkan penelitian di Inggris itu hanya melibatkan 30 responden, jadi kebenaran dampak buruk suplementasi megadosis vitamin C terhadap faktor genetik masih perlu dikaji lebih lanjut, hanya saja, saran saya pribadi, berhati-hatilah dalam mengkonsumsi suplemen apapun, lebih baik berkonsultasi dulu pada ahlinya, dokter atau ahli gizi sebelum mengkonsumsi suplemen dalam dosis yang besar semacam itu.
berikut ini tip menggunakan vitamin C:
- Gunakan vitamin C dosis tinggi (1 gram keatas) hanya bila anda :
- sering lelah
- stres
- tinggal di daerah polusi t inggi
- sering merokok, minum kopi atau alkohol
- sehabis menjalani operasi
- sedang menderita penyakit infeksi
- baru sembuh dari penyakit yang cukup lama
Untuk dosis tinggi, sebaiknya dibagi menjadi beberapa bagian dosis yang lebih kecil
agar penyerapan lebih optimal
- Untuk pemakaian umum cukup 200 - 250 mg saja
- Sebaiknya dikonsumsi bersama natioksidan lain, terutama vitamin E.
- Vitamin C juga harus diminum pada saat mengkonsumsi suplemen zat besi.
- Jangan mengkonsumsi vitamin C pada saat perut kosong, jadi harus bersama-sama makanan.
- Vitamin C dosis tinggi menghambat penyerapan copper dan selenium. Tambahkan suplemen
dan makanan yang kaya keduanya, misalnya beras merah, polong-polongan, lobak, pisang,
alpokat, bawang putih, dll.

0 komentar:

Poskan Komentar